Kamis, 29 Juli 2010

Artikel

ASAL USUL SUKUBANGSA REJANG
Menurut cerita orang-orang tua Rejang maupun dari karangan tertulis mengenai rejang yang dijumpai, asal usul bangsa rejang adalah LEBONG, dengan fakta sebagai berikut :
1. JOHN MARSDEN, residen inggris di LAIS (1775-1779), memberitakan adanya EMPAT PETULAI yaitu : Juru Kalang, Bermani, Selupu, dan TUBEI, karena Tubai terletak di wilayang Lebong dan pecahannya hanya terdapat diluar wilayah Lebong, hal ini memperkuat bahwa asal usul Sukubangsa Rejang adalag LEBONG.
2. J.L.M. SWABB, Kontrolir Belanda di LAIS (1910-1915), Menerangkan bahwa Marga Merigi yang terdapat diwilayah Rejang tetapi tidak wilayah di Lebong, karena Marga Merigi berasal dari wilayah TUBAI, juga adanya larangan menari antara bujang/gadis TUBAI dengan Gadis/Bujang Merigi di waktu Kejai, karena mereka berasal dari satu keturunan, yaitu petulai TUBAI.
3. Dr.J.W. Van ROYEN, Pasal bangsa Rejang berkata, bahwa sebagai satu kesatuan Rejang yang paling murni, di mana marga-marga dapat dikatakan didiami hanya oleh orang-orang dari satu bang, harus diakui Rejang Lebong….”Pada Zaman penjajahan Belanda Sukubangsa Rejang dinamai :REJANG LEBONG : yang mendiamai daerah rejangRejang MUSI dan REJANG LEMBAK : mendiami daerah Lais dan BengkuluREJANG PESISIR : yang mendiami Tebing Tinggi dan Rawas dinamai REJANG EMPAT LAWANG dan REJANG RAWAS.
Pada mulanya sukubangsa Rejang, hidup mengembara di daerah LEBONG, baru pada Zaman AJAI (Pemimpin suatu kumpulan manusia) menetap disuatu tempat.. Menurut riwayat sukubangsa Rejang berasal dari EMPAT PETULAI yang tiap petulai dipimpin oleh seorang pemimpin yang disebut dengan istilah Rejang AJAI.
Dalam zaman Ajai inilah daerah lebong masih bernama RENAH SEKALAWI atau PINANG BELAPIS, Palembang bernama SELEBAR DAUN dan Bengkulu masih bernama LIMAU NIPIS atau SUNGAI SERUT.Dalam riwayat disebutkan bahwa :
1. AJAI BITANG memimpin dan menetap di PELABAI tempat yang berada di Marga Suku IX, daerah Lebong Sekarang.
2. AJAI BEGELAN MATO memimpin dan menetap di KUTEUI BOLEK TEBO, tempat yang berada di Marga Suku VIII, didaerah Lebong sekarang
3. AJAI SIANG memimpin dan menetap di SIANG LAKAT, suatu tempat yang berada di MArga Jurukalang, daerang Lebong sekarang.
4. AJAI TIEA KETEKO memimpin dan menetap di BANDAR AGUNG, yang berada di MArga Suku IX yang sekarang.Pada masa pimpina AJAI inilah dating ke Renah Sekalawi empat orang abang beradik dari majapahit, putra dari Ratu Kencana Unggut yang melarikan diri ke Palembang dan terus ke Renah Sekalawi, mereka adalah : Biku SEPANJANG JIWO, Biku BEMBO, Biku BEJENGGO dan Biku BERMANO, dalam kisah perjalanan mereka disebutkan bahwa keempat Biku itu adalah menteri utusan kerajaan bahagian Mojopahit(Melayu), Yang diperkuat dengan sebutan nama yang menggunakan BIKU terang sekali yang berasal dari kata BIKSU yang berarti Pendeta atau paderi Budhha.Yang tujuan mereka bukanlah untuk mencari emas atau hendak menjadi raja, tetapi hanya untuk memperkenalkan kerajaan Mojopahit yang agung itu……….(bersambung). Diambil dari Buku Hukum Adat Rejang Kerangan Prof. Dr. H. Abdullah Siddik.

Perjalanan Biku ke RENAH SEKALAWI (DAERAH LEBONG)……..Saat ke empat biku sampai di Renah Sekalawi (Daerah Lebong), masyarakat pimpinan para Ajai itu telah bertebaran dan mulai menjadi besar, sehingga tidak dapat diberi bantuan yang sama kepada semua anggotanya, yang mana anggotanya bukan saja tersebar ke Ulu sungai ketahun, juga telah meluaskan sampai ke ulu sungai musi di daerah rejang yang sekarang, ke empat Ajai itu meminta nasehat kepada keempat biku dalam melaksanakan tugas mereka sebagai pimpinan.Atas musyawarah seluruh masyakarat, maka tak lama kemudian para Biku dipilih oleh keempat petulai yang ada disitu sebagai pimpinan mereka.Biku Sepanjang Jiwo menggantikan Ajai Bitang di Pelabai, Biku Bembo menggantikan Ajai Siang di Sukanegeri dekat TAPUS (Ulu Sungai Ketahun), Biku Bejenggo berkedudukan di Batu Lebar dekat ANGGUNG Rejang di Kesambe dan Biku Bermano berkedudukan di Kuteui Rukam dekat TES sekarang.Dibawah kepemimpinan ke empat Biku tersebut secara berangsur-angsur masyarakatnya mulai bercocok tanam, berladang dan bersawah dan mempunyai kebudayaan dan tulisan sendiri. Dimana tulisan bahasa Rejang ini dikenal dengan sebutan TULISAN RENCONG.Dalam pimpinan keempat biku ini adat istiadat diperbaiki, seperti adat gawah mati, yaitu tiap-tiap orang yang melakukan kejahatan yang dilarang keras oleh adapt dihukum mati, diperlunak, hokum mati bagi orang yangmembunuh orang diperlunak dengan diwajibkan sipembunuh membayar bangun kepada keluarga si mati sebagai pengganti nyawa yang disebut GENTI NYAWO.ASAL USUL BAYAR BANGUN
BATARA GURU Tuo Sakti mempunyai tujuh orang anak, salah satu seorang dari mereka bernama SINATUNG NATAK. Tersiarlah berita pada waktu itu, bahwa didusun Serik Seri Nato dekat dusun Sayak Mudo Belingai, kiri Bukit Kanan Laut, berdiam seorang putri yang sangat cantik molek bernama Putri Cerlik Cerilang Mato. Yang mana kecantikkan putri ini sampai kepada Bujang Sinatung Natak sehingga timbul hasratnya untuk bertemu dengan putri tersebut. Maka berangkatlah ia menuju dusun tempat putri itu, dan sesampai disana ia benar-benar melihat seorang gadis yang cantik molek berada dibalai dusun.Dengan tidak memikirkan bahaya yang mengancam dirinya dan terpesona oleh kecantikan putrid yang ia lihat, ia segera mendekatinya dan bercakap-cakap serta bersenda gurau dengan putri cantik itu.Hal ini disampaikan oleh orang kepada tunangan putri itu, bernama Sinatung Bakas, yang segera menuju balai dusun, dibalai didusun dia melihat seorang anak muda yang tampan sedang memainkan serulingnya di depan tunangannya.Dengan hati marah, anak muda itu dibunuhnya kemudian mayatnya dikuburkan dibawah balai dan di atasnya ditimbun dengan bangkai-bangkai binatang.Pembunuhan tersebut diketahui oleh Batara Guru, karena saktinya, maka berangkatlah beliau beserta beberapa anaknya menuju tempat kejadian guna menuntut balas, sampai disana rakyat dan rajanya mengingkari tuduhan pembunuhan yang diceritakan oleh Batara Guru.Mendengar hal ini maka salah seorang anak Batara Guru menyumpit dan sumpitnya itu jatuh ke tanah di bawah balai tempat kuburan saudaranya itu berada. Kuburan itu segera digali dan mayat Sinatung Natak ditemui masih dalam keadaan utuh yang dalam bahasa daerahnya dengan kata : rupo idak berubah, panau-panau masih ado.Setelah ada bukti maka rakyat dan raja mengakui kesalahan mereka dan bersedia mengganti kerugian berapa saja yang diminta, setelah mereka menceritakan dudukperkara yang sebenarnya mengapa sampai terjadi peristiwa pembunuhan tersebut.Batara Guru sebagai orang yang arif dan bijaksana dapat menerima peristiwa itu, belaiu tidak menuntut balas ganti nyawa, tetapi menetapkan ganti rugi sesuai dengan permintaan si pembunuh. Maka ditetapkan tiap-tiap panau yang ada ditubuh mendiang anaknya itu dengan satu mata uang yang diletakkan ditalam.Dengan kehendak Yang Maha Kuasa, panau habis diselidiki, simayat hidup kembali dan sesaat sesudah itu mati lagi. Uang yang ditalam dihitung ternyata berjumlah delapan puluh real.Dengan adanya peristiwa tersebut maka adat bayar bangun bagi si pembunuh sebagai pengganti adat Gawah Mati atau dengan perkataan lain, nyawa dibayar nyawa tidak ada lagi, tetapi cukup dengan pengganti delapan puluh Real.Bahwa adapt bayar bangun ini masih merupaknan hokum Adat pada masyarakat suku bangsa rejang dalam abad ke 18, dewasa ini adapt bayar bangun tidak dipakai lagi.Di bawah pimpinan keempat biku itu juga, orang-orang yang berada dalam lingkungan pimpinan masing-masing disatukan. Semua rakyat dibawah pimpinan biku Sepanjang Jiwo dimana saja berada disatukan dibawah kesatuan TUBAI atau TUBEUI dan berpusat di PELABAI.Rakyat di bahwa pimpinan Biku Bembo di mana saa meraka berada, disatukan di bawah kesatuan JURUKALANG dan berpusat di SUKANEGERI.Rakyat dibawah pimpinan Biku Bejenggo dimana saja mereka berada, disatukan dibawah kepemimpinan kesatuan SELUPU dan berpusat di BATU LEBAR dekat Anggung Kesambe wilayah rejang sekarang.Rakyat dibawah pimpinan biku Bermani di mana saja berada, disatukan bi bawah pimpinan kesatuan BERMANI dan berpusat di KUTEUI RUKAM.Asal mulanya nama-nama kesatuan tersebut di atas menurut riwayat orang-orang tua sukubangsa rejang, adalah sebagai berikut :

Pada suatu masa dalam permerintahan Empat Biku terjadilah suatu bencana, suatu malapetaka yang hebat. Rakyat mereka banyak yang jatuh sakit dan meninggal. Segala ikhtiar telah dijalankan untuk menangkis malapetaka itu, tetapi semuanya tidak berhasil. Maka dimintalah ramalan ahli nukum.


Menurut ramalan ahli nujum, yang menyebabkan kedatangan mara bahaya itu adalah seekor beruk putih yang berdiam di atas sebuah pohon yang besar, yang bernama benuang Sakti. Apabila beruk itu berbunyi, kemana arahnya menghadap, maka negeri-negeri bagian yang dihadapinya itu mendapat malapetaka seperti yang telah meraka alami dan derita pada masa itu.

Maka atas permufakatan keempat petulai sukubangsa Rejang, batang Beuang Sakti tempat kediaman beruk putih itu harus dicara sampai dapat ditebang. Maka tiap-tiap petulai berpencar untuk mencarinya dan menemukan pohon Benuang Sakti yang diramalkan irtu, jadi ada yang menuju aarah, timur, barat selatan ada pula yang ke utara. Hasilnya, yang pertama menemukan pohon yang dicari adalah anak buah pimpinan Biku Bernamo. Mereka segera mulai menebang pohon itu, tetapi bagaimanapun kuatnya mereka berusaha menebang batang pohon tersebut, pohon itu tidak juga roboh, dalam kata riwayat : segumpal runuth kubalnya, dua gumpal bertambah. Demikian pohon itu semakin dikapak semakin bertambah besar.

Saat itu muncullah anak buah pimpinan Biku Sepanjang Jiwo, sambil berkata dalam bahasa rejang : bie pu-eis keme beubeui-ubei mesoa, uyo maka betemau yang artinya adalah :”Aduhai, telah puas kami berduyun-duyun bersama mencari, sekaranglah baru menemukannya. Kemudian muncul laah anak buah biku Bejenggo dan mereka pun segera turut membantu menebang pohon, tetapi pohon itu tidak roboh, bahkan semakin besar.

Maka berkatalah anak buah pimpinan Biku Bernamo dalam bahasa Rejang :

Keme yo kerjo cigai mania neigai, anak bua Bikau Sepanjang Jiwo bi beubei-ubei kulo, anak bua Bikau Bejenggo bigupeak kulo kerjo tapi ati kune kiyeu yo lok uboak, berang kalaei anak bua Bikau Bmbo alang neigai mako si lok uboik kiyeu yo, yang artinya sebagai berikut :

“ Kami telah bekeja hingga tiada berdaya lagi, anak buah Biku Sepanjang Jiwo telah bersama-sama pula bekerja dan anak buah Biku Bejenggo pun turut bersama-sama bekerja, tetapi pohon ini tiada juga hendak rebah, barangkalai anak buah Biku Bembo yang menjadi penghalangnya”.

Kebetulan pada waktu itu muncullah anak buah pimpinan Biku Bembo dan kareka kegirangan mereka meneukan bukan saja pohon yang dicari, tetap juga orang-orang dari ketiga petulai yang telah berkumpul di situ, maka terlontarlah kata-kata dalam bahas Rejang : “Pio ba kumu telebong, yang berarti : “di sini kiranya saudara-saudara berkumpul. Dan sejak peristiwa yang bersejarah ino, berkatalah riwayat. Wilayah Renah Sekalawai bertukar nama menjadi LEBONG.

Maka bercerita lah mereka tentang usaha untuk menebang pohon itu tidak berhasil, maka dari hasil musyawarah maka mereka sepati untuk betarak (bertapa), meminta petunjuk dari Sang Hiang, bagaimana cara menebang pohon itu. Dari hasil betarak tersebut dari Sang Hiang pohon itu baru dapat rebah kalau dibawahnya digalang 7 orang gadis muda remaja.

Maka untuk memenuhi syaratnya tersebut ditugaskanlah anak buah Biku Bembo untuk mencari 7 orang gadis yang dikehendaki sebagai penggalang. Setelah ke 7 orang gadis itu dapat maka mereka bermusyawarah lagi, agar supaya ke 7 orang gadis sebagai penggalang tidak menjadi korban atau tertimpa oleh pohon besar yang akan dirobohkan. Maka disepepati lah untuk membuat parit yang besar muat untuk ke 7 orang gadis tersebut, sedangkan bagian atas parit itu digalang pula dengan pelupuh.

Setelah pekerjaan membuat parit itu selesai dan para gadis sudah dijadikan penggalang, maka mulailah menebang pohon Benuang Sakti itu ditebang dan sesungguhnya pohon besar itu roboh di atas tempat ke 7 gadis itu berlindung. Dengan adanya parit tersebut, maka terhindarlah ke 7 gdis penggalang itu dari maut dan beruk putih yang berdiam diphon itu menghilang.

Menurut riwayat semenjak peristiwa bersejarah di atas, maka mulailah petulai-petulai mereka diberi nama menurut pekeraan anak buah pimpinan masing-masing, dalam usaha bersama-sama menebang pohon Benuang Sakti itu.

Petulai Biku Sepanjang Jiwo diberi nama TUBEUI. Asal kata ini dari bahasa Rejang “berubeui-ubeui” yang berarti berduyun-duyun.

Petulai biku Bermano diberi nama BERMANI. Asal kata ini dari bahasa rejang “Beram Manis” yang berarti tapai manis.

Petulai Biku Bembo diberi nama JURUKALANG. Asal kata ini dari bahasa rejang “Kalang” yang berarti galang.

Petulai Biku Bejenggo diberi nama SELUPUEI. Asal kata ini bahas rejang “berupeui-upeui” yang berarti bertumpuk-tumpuk .

Maka sejak saat itu pula renahSekalawai bernama LEBONG dan tercipta REJANG EMPAT PETULAI yang menadji intisari sukubangsa Rejang

Baik dilihat dari asal mula adapt bayar bangun maupun dari riwayat asal mula nama Lebong dan Rejang Empat Petulai, nyata terlihat pengaruh kebudayaan HINDU dalam perkembangan adapt yang berlaku pada zaman itu. Seterusnya menurut riwayat, Biku Sepanjang Jiwo tidak menetap di Lebong, karena beliau kembali ke Mojopahit-sebenarnya ke Pagar Ruyung dengan tiada meninggalkan turunannya, sebagai pengganti beliau adalah RAJO MEGAT yang dikirm dari Pagar Ruyung.

Ditinjau dari sudut sejarah ,peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1377 dan 1389, yaitu sesudah hancurnya kerajaan Sriwijaya dan sebelum wafatnya Raja Hayam Wuruk.


PETULAI TUBEUI

Dengan kembalinya Biku Sepanjang Jiwo ke Mojopahit, sebenarnya ke Negara bahagian Mojopahit Melayu yang kemudian berpusat di Pagar Ruyung-maka Pagar Ruyung menunjuk penggantinya di Lebong, yang menurut riwayat Rejang seorang yang bernama RAJO MEGAT.

Ada juga yang meriwayatkan bahwa namanya adalah RAJO MUDO GUNUNG GEDANG.
Raja Megat ini kawin dengan Putri Gilang alias Putri Rambut Seguling, anak ajai Bitang dan tetap berkedudukan di Pelabai serta tetap pula berpegang teguh pada kesatuan Tubeui. Kedatangan rajo Megat dapatlah dikira-kirakan pada permulaan abad ke-15.
Alkisah Rajo Megat mempunyai dua orang anak, yaitu seorang putrai RAJA MAWANG dan seorang putrid bernama SENGGANG. Setelah Rajo Megat wafat, beliau digantikan oleh anaknya Rajo Mawang yang berkedudukan tidak lah lagi di Pelabai tetapi di Kuteui Belau Sateun, suatu tempat yang terletak di dalam marga Suku IX yang sekarang.

Rajo Mawang mempunyai tujuh orang anak, yakni :

1. Ki Geto
2. Ki Tago
3. Ki Ain
4. Ki Jenai
5. Ki Getting
6. Ki Karang Nio
7. Putri Serintang Bulan
Rajo Mawang digantikan oleh putranya bernama Ki Karang Nio dengan memakai gelar SULTAN ABDULLAH, sedangkan putra-putranya yang lain itu bertebaran mendirikan kuteui-ketuei baru.

Ki Geto umpanya pindah menetap di Kelobak di wilayah Rejang yang sekarang dan beliau pula yang mendirikan petulai baru MIGAI atau MERIGI sebagai pecahan dari petulai asal Tubeui.
Menurut Riwayat terjadinya pecahan petulai di atas adalah sebagai berikut :
PUTRI SERINDANG BULAN
Putri Serindang Bulan terkenal sebagai seorang putri yang sangat cantik parasnya pada masa itu. Waktu putri itu telah dewasa, sembilan kali berturut-turut ia mengalami putus tuning, karena apabial ia telah bertunang, maka tumbuhlah satu penyakit di badanya, yaitu penyakit kusta, yang menyebabkan tunangannya akhrinya menjadi kecewa, sehingga memutuskan pertunangannya.

Anehnya bila pertunangan putus, maka penyakitna itu sembuh sendiri. Demikianlah keadaan putri Serindang Bulan sampai mengalami sembilan kali putus bertunangan.

Semua peristiwa itu menyebabkan saudara-saudaranya menjadi murka dan sangat kecewa karena tidak akan menerima jujur putrid Serindang Bulan.

Maka semua saudara putri bermusyawarah dan mengambil keputusan bahwa Putri Serindang Bulan harus dibunuh, agar ia jangan membuat malu lagi. Dalam mufakat itu hanya Ki Karang Nio yang tidak menyetujui keputusan di atas, tetapi ia kalah suara, apalagi ia adalah anak yang bungsu pula.

Dan dalam musyawarah itu juga diputuskan Ki Karang Nio yang akan melaksanakan membunuh adiknya yang disayanginya itu didalam hutan. Sebagai bukti, bahwa ia telah melaksanakan tugsanya itu, ia nanti harus membawa kembali setabung darah Putri yang dibunuhnya itu.

Di waktu putrid itu akan berangkat menuju ke hutan untuk dijalani keputusan tersebut, ia membawa sebuah tempat sirih “Bokoa Ibeun” dan seekor ayam biring.

Sesampainya di hutan Ki Karang Nio tidak sampai hati membunuh Putri Serindang Bulan, maka dicarikannya akal untuk dapat menyelamatkan Putri Serindang Bulan dengan mengelabui kakak-kakaknya yang tidak berprikemanusian.

Putri adiknya itu tidak jadi dibunuhnya, tetapi dihanyutkannya dalam sebuah rakit di sungai ketahun. Hanya daun telinga adiknay itu disayatnya sedikit unuk menjadi tanda baginya di kemudian hari, jika mereka dapat bertemu kembali. Sambil membekali adiknya sedikit makanan dan dengan hati yang sangat pilu, ia melepaskan adik yang disayanginya itu disertai permohonan sungguh-sungguh kepada Yang Maha Kuasa,semoga adiknya itu mendapat pertolongan, agar tidak jadi mati dan dapat juga kelak pada suatu hari bertemu kembali dengan dia.

Kemudian Ki Karang Nio kembali ke Kuteui Belau Sateun dan melaporkan kepada kakak-kakaknya, bahwa putri telah mati dibunuhnya, sebagai bukti ia membawa setabung darah anjing kumbang dan ia menunjukkan pula mata pedang yang berlumuran darah.

Alkisah putri Serindang Bulan yang dihanyutkan itu, dengan takdir Tuhan dalam keadaan tiada kurang suatu apapun, terdampar di pulau PAGAI di muara Aer Ketahun. Kebetulan pada waktu itu SETIO BARAT, Tuanku INDRAPURA pergi berburu ke pulau Pagai. Tiba-tiba Tuanku terpandang kepada seorang perempuan bangsa asing yang sangat cantik rupanya. Segera putrid itu didekatinya dan ditanyainya bagaimana kisahnya maka ia sampai kepualau tersebut.

Setelah Tuanku mendengarkan riwayatnya, maka dibawanyalah Putri itu ke Indrapura dan dijadikan istrinya. Kemudian dikirimlah utusan ke Lebong untuk membawa kabar baik itu kepada saudara-saudaranya, sambil mengundang mereka untuk dating ke Indrapura.
Maka Ki Geto dan adik-adiknya berangkat menuju Indrapura dan kedatangan mereka disambut oleh Tuanku dengan gembira.

Tidak lama kemudian Ki Geto dan saudara-saudaranya bermohon pulang dan oleh tuanku diberikan kepada mereka masing-masing persalin, dan juga seundang emas perak sebagai uang jujur Putri Serindang Bulan. Tetapi malang bagi mereka, dalam pelayaran pulang itu mereka diserang oleh badai, sehingga perahu mereka pecah dan terdampar di sebuah teluk di antara IPUH dengan KETAUN.

Waktu mereka sadar akan dirinya, maka ternyata bahwa segala emas dan perak dan barang-barang yang mereka bawa itu, habis semuanya kecuali barang-barang kepunyaan Ki Karang Nio yang masih utuh.
Sehingga timbul rasa iri hati mereka untuk merampas harta benda Ki Karang Nio, tetapi Ki Karang Nio bertindak dengan bijaksana, sehingga dapat menggagalkan niat jahat saudara-saudaranya.

Ki Karang Nio berkata dalam bahasa Rejang kepada saudara2nya itu,”Harto ku harto udi, harto udi hartoku, barang udi cigai, uku magiae”, yang artinya, “Hartaku harta kalian, harta kalian hartaku, barang kalian sudah tidak ada lagi, maka aku bagikan hartaku kepada kalian”.

Maka Ki Karang Nio membagikan hartanya kepada saudara-saudaranya, melihat tindakkan adiknya itu maka mereka menjadi malu dan terharu, lebih bila mereka teringat tindakan mereka untuk memerintahkan Ki Karang Nio untuk membunuh Putri Serindang Bulan.

Perasaan malu ini menyebabkan mereka memisahkan diri dari adik mereka yang bungsu dan mengambil keputusan untuk tidak akan kembali lagi ke tanah asal Lebong. Maka berkatalah mereka dalam bahasa rejang “Uyo ote sao keme migai belek”, yang artinya “sekarang kita bercerai dan kami tidak akan kembali lagi”.
Teluk tempat mereka menyatakan perkataan-perkataan di atas sampai sekarang bernama TELUK SARAK ( Teluk tempat berpisah).

Maka pulanglah Ki Karang Nio sendiri ke Lebong dan kemudian menggantikan ayahandanya, sedang Ki Geto dan saudara-saudaranya yang lain bertebaran di luar wilayah lebong, membuat sosokan atau mendirikan kuteui. Petulainya tidak dinamai Tubeui lagi melainkan MIGAI, sebagai peringatan bagi keturunan mereka dikemudian hari.

Kata Migai ini dimalayukan menjadi MERIGI, demikianlah asal usul Petulai Merigi, yang hanya terdapat di luar Lebong, sebagai pecahan dari petulai Tubeui yang berada di Lebong.

Ki Karang Nio yang menggantikan ayahnya di Kuteui Belau Sateun, meneruskan petulai Tubei di wilayah Lebong dengan memakai gelar Sultan Abdullah.

Beliau mempunyai empat orang anak, yaitu : Ki Pati Alias Rio Patai,Ki Pandang Alias Tuan Rajo, Putri Jinar Anum dan Putri Batang Hari.

Alkisah pada suatu ketika, Putri Serindang Bulan mengirim suatu bingkisan dari Indrapura kepada anak-anak Ki Karang Nio yang laki-laki, berupa tempat sirih (Bakoa Ibeun) yang dibawa pada waktu ia meninggalkan saudaranya tempohari dan isinya dengan dua selendang (sabok). Satu sabok sutera sudah buruk birisi buah aman (buah kecil tetapi manis) dan satu sabok sutera masih baru berisi buah abo (buah besar tetapi masam).

Waktu kiriman itu sampai Ki Pati dan Ki Pandan berebut. Ki Pati anak yang tertua mengambil sabok sutera yang baru serta tutu[ tempat sirih yang berambai-ambaikan perak dan Ki Pandan mengambil yang selainnya, yaiatu bakul sirih rotan yang berisi sabok sutera lama, dengan buah aman di dalamnya.

Tak lama kemudian Putri Serindang Bulan kembali ke Kuteui Belau Sateun dan karena aarif bijaksananya, beliau terkenal di Lebong ini dengan sebutan SEBEI LEBONG.

Pada suatu hari, sedang Ki Karang Nio menghadapi orang tua-tua, Sebei Lebong menuruh panggil Ki Pati dan Ki Pandan supaya turut hadir.

Di hadapan khalayak yang hadir, Sebei menanyakan kepada Karang Nio, siapakah diantara dua anak lelakinya yang mengambil sabok buruk yang berisi buah aman dan siapa yang mengambil sabok baru yang berisi buah abo.

Dijawab oleh Ki Karang Nio bahwa sabok sutera yang baru serta isinya buah abo di ambil anaknya yang tertua, sabuk sutera yang lama serta isinya buah aman diambil oleh anaknya Ki Pandan.

Lalu Sebei Lebong berkata kepada orang tua-tua yang hadir,

“Hai anakku KI Pati, tabiatmu bukan seperti tabiat orang tua dan berpaham, Engkau meilih yang lauarnya saja, tidak menilik yang batin: Engkau mau yang kelihatanya bagus, mau yang enaknya saja seperti tabiat paman-pamanmu yang berlima itu. Camkanlah dihati sanubarimu, hai anakku Ki Pati, bahwasanya orang bertabiat demkian tidak patut menjadi Raja”.

“Engkau, hai anakku Ki Pandan, sungguhnya engkau masih kecil, tetapi engkau bijaksana dan budiman. Dengan tabiat yang demikian itu, sudah selayaknya engkau akan menggantikan ayahmu di Lebong ini”.

Peristiwa ini menjadi benih keretakan dua abang beradik ini dikemudian hari, hal ini nampak setelah Ki Pati dewasa, karena ia meninggalkan Kutei Belau Sateun, pergi ke Pagar Bulan, mendirikan Kutei Karang Anyar dan tinggal menetap disana.

Barang-barang yang ditinggalkan Ki Pati untuk Jurainya terdiri dari sebuah gading gajah, sebuah cikuk dari gading dan dua bilah keris,yaiatu keris sepejam dan keris semayang mekar, semuanya berada di dusun Semelako yang sekarang.

Makam Ki Pati di Beringin Kuning dihormati oleh petulainya dan dewasa ini terkenal sebagai KERAMAT SEMELAKO.

Belaiu diganati oleh anaknya Kutei Teras Mambang ini hilang lenyap disebabkan oleh suatu bencana alam, yaitu air bah yang meluap dari sungai ketahun.
Rio Cende dan lima orang saudaranya turut tenggelam, sedangkan dua saudaranya yang lain terhindar dari bahaya maut, karena pada waktu itu mereka sedang berada diluar daerah bencana.

Rio Bas meninggalkan wilayah Lebong menuju wilayah Lais dan mendirikan Kuteui Pagar Banyu di ulu Palik, sedangkan Rio Pijar tetap tinggal di wilayah Lebong dan mendirikan Kuteui Usang dekan dusun Semelako yang sekarang serta melanjutkan petulai SUKU VIII.

Ki Pati menggantikan ayahandanya, Ki Karang Nio, yang menurut riwayat raib(menghilang), di ulu Deus, dekat dusun Tunggang sekarang.

Sebagai kenangan pada peristiwa Raib fi atas, terkenallah KERAMAT ULU DEUS. Barang-barang pusaka yang ditinggalkan oleh beliau untuk jurainya, terdiri dari menteko tiga puluh, sebilah pedang dan tiga bilah keris di dusun Lebong Donok, tumpuk igis, sebuah kendi dan sehelai baju di dusun Tunggang dan sepucuk senapang di dusun Sekandan.

Juga Ki Pandan meninggalkan Kuetui Belaun Sateun dan mendirikan kuteui baru, yaitu Bandar Agung. Disini pulalah beliau meninggal dunia dan dikuburkan dekat Kantor Maskapai Tmabnag Emas Rejang Lebong yang dahulu tempat itu terkenal sebagai KERAMAT LEBONG. Makam ini dihormati oleh petulainya.

Kesatuan Tubei lebong ini, sesudah Sultan Abdullah meninggal, tidak dapat lamio lagi dipertahankan. Keretakan yang timbul seperti yang diterangkan di atas, membawa pula perpecahan dalam tubuh petulai Tubeui, yang berada di wilayah lebong.

Ki Pati menamakan pecahan petulainya SUKU VIII, mengingat anak-anak lelakinya yang berjumlah delapan orang, sedangkan Ki Pandan menamakan pecahan petulainya SUKU IX mengingat anak-anak lelakinya yang berjumlah sembilan orang.

Seterusnya menurut riwayat, putrid Jinar Anum bersuamikan Rio Taun, anak Bikau Bembo dari petulai Jurukarang, sedangkan putrid Batang Hari bersuamikan Rio Tebun di Lubuk Puding Rawas, adik Rio Taun tersebut.



Selanjutnya ….PETULAI KURUKALANG

MODEM CDMA klik disini.....

2 komentar:

  1. minta cerita lengkapnyo......

    BalasHapus
  2. Maaf Pak ... saya mau bertanya .. dimana letak Ujian praktek Kls XI Mengirim email..bapak Pindahkan dimana ,, maaf sekali lagi pak..

    BalasHapus